pagi-pagi mama sudah menelponku, pasti ada sesuatu kalau seperti ini,segera saja ku telpon balik dan tanpa basa basi mama menceritakan percakapannya dengan etta,kalau tidak salah seperti ini :
"halo ini siapa?????",kata etta
"mama.........sudah lupa mie kah?",balas mama
"ogh....habis menelpon kie Anakmu",lanjut etta
langsung saja mama matikan telpon, jelas mama padaku tadi pagi.
"kenapa ma?",tanyaku
"saya jengkel,masa dia bilang habis menelpon kie anakmu...memangnya kau bukan anaknya?",ujar mama.
"hahahaha...........",hanya ku jawab dengan tawa padahal air mataku sudah menggenang di pelupuk mataku.
sejenak hening,aku tak tau harus berucap apa kepada mama, karna pasti sekarang perasaannya kembali hancur seperti perasaanku kali ini,etta sama sekali tak berubah,masih sangat suka melukai hatiku dan hati mama. terkadang aku sering bertanya dalam hati dendam apa yg etta simpan padaku dan pada mama sehingga dia dengan sangat teganya menyiksa batin kami perlahan.
"halo...halo, kenapa diam?",terdengar suara mama.
"egh...kenapa ma?".
"kenapa diam ko nak?".
"endak jie mama, kenapa kah kita tlp lg etta,kan memang saya anakta bukan anaknya dia",jawabku dgn suara gemetar menahan tangis.
"tadi rencananya mama mau minta uangnya,kan sebentar lagi lebaran haji,mama rencana mau tehel makamnya adekmu,sekalian di qurbankan juga".
"igh mama,kenapakah minta sm etta?,kan dari dulu dia sudah ndak peduli sm kita,kenapa kah kita masih harapkan dia?".
"karna biar bagaimana dia tetap ettamu".
suara tangisku sudah terdengar,aku tahu di balik telpon mama juga sudah ingin menangis namun air matanya sudah kering,karna saking seringnya menangis.
"jangan pernahmie kita tlp lg etta mama,nanti sy yg tehel kuburannya adekq".
"janganmie nak,kan kau mau tehel makamnya kakek,jadi masa makamnya adekmu kau juga".
"ndak papa jie mama, asal jgn makie lg tlp-tlp etta".
"iya,ndak bakal mie mama tlp ettamu,tp bgmn mie kau ada ji kah uangmu?".
"insya allah kalau untuk kita sy usahakan bagaimanapun caranya ".
"tp janko paksakan dirimu nagh nak".
"ndak jie mama,sudah mie dulu nagh ma,sy mau mandi".
Ku tutup telpon tanpa menunggu kata penutup dari mamaku, aku duduk dengan lemasnya di lantai, pagi ini hatiku kembali di guncang kecewa yang teramat sangat, aku sadar semua ini cobaan tapi kenapa mesti datangnya dari ettaku sendiri.
kembali terbayang 13 tahun kulewati dengan susah payah, bersama mama dan ketiga adikku,tanpa etta seandainya bisa di umpamakan ettaku itu seperti jaelangkung,datang tak di jemput pulang tak di antar. tak pernah ku dengar mama dan etta berselisih sampai pada waktunya etta meninggalkan kami dengan alasan merantau dan bertahun-tahun tak ada komunikasi.. sehingga kami sekeluarga mesti bertahan hidup dengan mencari pekerjaan sendiri, mama mengambil alih peran etta sebagai kepala keluarga. mama juga menanamkan prinsip kepada kami bersaudara,kalau mau sekolah mesti biaya sendiri. maka aku dan ketiga adikku harus membanting tulang melakukan apapun pekerjaan yg bisa kami kerjakan dan menghasilkan uang untuk sekolah kami...beruntung kami bersaudara adalah anak-anak yang mau tidak mau harus tahan banting jadilah aku mesti menamatkan SMPku dengan tinggal di rumah nenekku,kemudian untuk menamatkan SMA dan Kuliahku aku harus bekerja paruh waktu di pabrik yg terletak di kawasan industri, kerja paruh waktu itu tidak mudah, di mana aku harus semalaman duduk bergadang,belum lagi di lanjutkan paginya mesti ke sekolah.dan adik-adikku mau tidak mau mesti mengikuti jejakku bekerja paruh waktu.
terbayang,saat adikku yg pertama saat SMP mesti bekerja paruh waktu membuka kulit ari kacang mede dan coklat,setiap malam dia akan begadang mengupas kulit coklat sebanyak 10 Kg yg akan di setornya jam 6 pagi sebelum dia ke sekolah,belum lagi waktu dia SMA dia mencari uang dengan mengumpulkan PR teman-temannya dan mengerjakannya kemudian dia di bayar 2rb/org/pr,ternyata bisa membantunya sampai lulus SMA,skrg dia membuka kios menjahit sambil kuliah,lain lagi dengan adekku yg ke dua dia lebih beruntung krn dia merasakan kerja paruh waktu hanya sekali-kali selebihnya di tanggung olehku dan mama,kalau adikku yg ketiga atau yg bungsu membiayai sekolahnya dari hasil beternak ayam dan bebek,telurnya dia jual untuk dia jadikan jajan tiap hari.
hehehehehe.......ada-ada saja hidup ini, ogh yagh kembali ke etta....etta tiba-tiba muncul saat org tuanya sakit, kembali di sini kami sekeluarga di uji,saat nenek meninggal etta kembali dengan mebawa kabar kalau dia telah menikah sebanyak tiga kali, busyetttttttttt...........
kemudian etta meminta maaf kepada mama dan meminta untuk kembali dan AJAIB mama memaafkan etta..jadilah kembali kami menjadi keluarga yg utuh selama satu minggu dan melewatkan lebaran idul fitri.
Suatu hari saat aku duduk berdua dengan etta,kami sempat bercerita :
"etta,ceraikan mamaku kalau etta masih mau plng ke papua".
"sudah tidak maukah punya etta?".
"bukan begitu,tapi etta mesti memilih".
"biar bagaimana pun etta tidak mau menceraikan mamamu,istri etta cuma mama,yg di sana hanya untuk mengurus etta,krn mama tidak mau ikut,katanya tidak mau tinggalkan kalian".
"tapi ini beda mie,masa kita mau tinggalkan lagi kami".
"etta janji,etta di sana cuma satu bulan,urus dulu pengunduran dirinya etta dari RS,sm urus jamsosotek,janji cuma satu bulan".
"ok...satu bulan klo tidak ndak ada maaf untuk etta".
etta memelukku sangat erat,hangat terasa namun aku tau semua katanya hanya kebohongan belaka,aku cuma tidak ingin merusak suasana yg damai yg sudah lama kami dambakan.
ternyata fikiranku betul,belum lagi seminggu,sehari saja setelah kepergian etta,no.nya sudah tak aktif,setelah dua minggu etta sudah tak mau menganggkat telponku.
kemudain tiba-tiba mamaku jatuh sakit,sudah beberapa minggu diagnosanya lever,ampun..........cobaan apa lagi ini,karna sakit mama berhenti bekerja,jadilah aku yg mesti mengambil alih peran mama.
aghh...........sudahlah,ku hapus air mataku yg sedari tadi mengalir...sudah nasibku seperti ini,mestinya aku harus bersukur karna aku masih di beri kesempatan untuk berbakti kepada mama, togh memang aku anak mama bukan anak etta secara yang melahirkanku mama..biar pulalah etta bahagia dengan pilihannya,tapi aku yakin suatu saat etta akan pulang dan aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka karna dia suami mamaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar